Self Compassion: Definisi, Konsep dan Intervensi

self compassion

Pendahuluan

Self Compassion-Dalam kehidupan modern yang penuh tekanan dan tuntutan, cara seseorang memperlakukan dirinya sendiri menjadi aspek penting dalam kesehatan mental. 

Dua gaya internal yang sering muncul adalah self-compassion (belas kasih terhadap diri sendiri) dan self-criticism (kecenderungan menyalahkan diri sendiri). Meskipun kedua pendekatan ini berkaitan dengan cara kita memandang kekurangan dan kegagalan, keduanya memiliki efek psikologis yang sangat berbeda pada kesejahteraan individu.

Self-compassion secara sederhana dapat dipahami sebagai sikap memperlakukan diri dengan kebaikan dan pengertian, terutama dalam menghadapi kesalahan atau penderitaan. 

Sebaliknya, self-criticism melibatkan penilaian negatif terhadap diri sendiri, sering muncul sebagai kata-kata keras internal yang memperparah stres, kecemasan, dan perasaan tidak berharga.

Artikel ini akan menguraikan konsep kedua fenomena tersebut, membandingkan keduanya dari perspektif psikologis dan empiris, serta membahas dampaknya pada kesehatan mental berdasarkan penelitian ilmiah terbaru.

Definisi dan Konsep

Self-Compassion

Self-compassion adalah konsep psikologis yang populer dalam literatur kesehatan mental. Konsep ini sering dikaitkan dengan karya Dr. Kristin Neff, yang menggarisbawahi tiga komponen utama: (1) self-kindness (mengasihi diri sendiri), (2) common humanity (kesadaran bahwa semua manusia mengalami penderitaan), dan (3) mindfulness (kesadaran emosional tanpa keterikatan berlebihan). Ketiga komponen ini bekerja bersama untuk membantu individu menghadapi pengalaman sulit tanpa menghakimi diri sendiri secara berlebihan. 

Self-Criticism

Self-criticism adalah pola evaluasi diri yang negatif, sering terkait dengan perfeksionisme, rasa malu, atau kecemasan. Individu yang sangat self-critical cenderung fokus pada kesalahan dan kekurangan mereka, memikirkan kegagalan sebagai bukti bahwa mereka tidak layak. Literatur psikologis menunjukkan bahwa self-criticism merupakan faktor risiko untuk gangguan mood, termasuk depresi dan kecemasan. 

Self-Compassion dan Kesehatan Mental

Penelitian empiris menunjukkan bahwa self-compassion berkaitan dengan berbagai aspek kesejahteraan psikologis. Meta-analisis terhadap intervensi berbasis self-compassion menemukan bahwa pendekatan ini efektif dalam mengurangi self-criticism dengan efek moderat, serta meningkatkan kesejahteraan emosional.

Dalam konteks sosial yang kompleks, self-compassion terbukti menjadi pelindung penting terhadap efek negatif paparan konten prestasi di media sosial yang sering memicu perbandingan sosial dan kritik diri yang berlebihan. 

Studi pada dewasa awal menemukan hubungan negatif yang kuat antara self-compassion dan self-criticism pada individu yang terpapar konten pencapaian di media sosial, yang menegaskan peran positif self-compassion dalam mengurangi kecenderungan menyalahkan diri sendiri.

Perbandingan Empiris: Self-Compassion dan Self-Criticism

Hubungan Negatif Antara Keduanya

Studi di kalangan mahasiswa kedokteran menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara self-compassion dan self-criticism: semakin tinggi self-compassion, semakin rendah kecenderungan self-criticism. Temuan ini konsisten dengan kerangka teoritis bahwa self-compassion dapat memoderasi dampak evaluasi diri yang keras. 

Intervensi Self-Compassion Mengurangi Self-Criticism

Penelitian intervensi menunjukkan bahwa pelatihan self-compassion efektif dalam mengurangi self-criticism pada mahasiswa. Intervensi semacam ini memperkenalkan teknik seperti mindfulness, self-soothing, dan refleksi kebaikan diri, yang membantu peserta mengembangkan respons internal yang lebih adaptif terhadap kesalahan dan stres

Dampak Self-Criticism pada Kesejahteraan

Self-criticism telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan mental. Literatur psikologis menunjukkan bahwa self-criticism merupakan prediktor kuat untuk tingkat stres yang lebih tinggi, gangguan mood, serta hambatan dalam penyelesaian tujuan pribadi dan relasi interpersonal karena fokus pada kegagalan dan evaluasi negatif diri.

Self-criticism juga tampak sebagai faktor penting dalam perkembangan dan pemeliharaan gejala psikopatologi, termasuk gangguan kecemasan dan depresi. Individu dengan self-criticism tinggi sering memiliki standar internal yang tidak realistis dan rentan terhadap respon emosional yang berlebihan terhadap kegagalan. 

Aplikasi Klinis dan Intervensi

Intervensi Berbasis Self-Compassion

Pendekatan klinis baru seperti Compassion-Focused Therapy (CFT) dirancang untuk membantu individu mengembangkan self-compassion dan mengurangi self-criticism. Terapi ini menggabungkan teknik kognitif, mindfulness, dan visualisasi untuk meningkatkan kemampuan memaafkan diri sendiri dan meredakan respons negatif internal yang berlebihan. 

Mindfulness dan Keterampilan Emosional

Selain terapi, praktik seperti meditasi mindfulness, journaling, dan latihan self-soothing dapat membantu individu mengenali pikiran self-critical dan menggantinya dengan perspektif yang lebih penuh pengertian. Dengan melatih kesadaran tanpa menghakimi, individu dapat mengurangi kecenderungan meremehkan diri sendiri dan membangun ketahanan terhadap stres emosional.

Implikasi Praktis

Untuk Pendidikan

Di lingkungan akademik, pelatihan self-compassion dapat membantu siswa menghadapi tekanan akademik yang tinggi dan mengurangi ketergantungan pada self-criticism sebagai motivator. Program keterampilan emosional di sekolah atau universitas dapat memberikan siswa alat untuk mengembangkan self-compassion guna meningkatkan kesehatan mental dan kinerja. 

Untuk Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari, meningkatkan self-compassion membantu individu mengatasi masalah pribadi seperti kegagalan, kritik dari orang lain, atau tekanan sosial  tanpa menyalahkan diri sendiri secara destruktif. Kesadaran bahwa orang lain juga mengalami perjuangan yang sama (common humanity) dapat mengurangi isolasi emosional dan meningkatkan kesejahteraan. 

Kesimpulan

Self-compassion dan self-criticism adalah dua pola internal yang memiliki peran sangat berbeda dalam kesehatan mental. 

Self-compassion, sebagai bentuk kebaikan terhadap diri sendiri, terbukti menjadi faktor protektif penting terhadap self-criticism dan berkontribusi pada kesejahteraan emosional. Penelitian empiris menunjukkan bahwa self-compassion berhubungan negatif dengan self-criticism, serta terbukti efektif dalam konteks intervensi klinis dan kehidupan nyata.

Sebaliknya, self-criticism yang berlebihan dapat menjadi sumber stres, kecemasan, dan gangguan psikologis lainnya. 

Dengan memahami dan melatih self-compassion, individu dapat memperkuat respons emosional yang adaptif serta meredakan dampak buruk dari pola menyalahkan diri sendiri.

Daftar Pustaka 

  1. Raisa, R., Thalib, T., & Saudi, A. N. A. (2024).Self-Criticism dan Self-Compassion: Studi pada Mahasiswa Kedokteran di Kota Makassar. Jurnal Psikologi Karakter . 
  2. N. Amita (2024). Pelatihan Self-Compassion untuk Mengurangi Self-Criticism pada Mahasiswa. Jurnal Intervensi Psikologi
  3. Vinesia Febrianti & L. M. Boediman (2024). Strategi Self-Compassion: Mengurangi Stres di Kalangan Siswa SMA. JIP: Jurnal Intervensi Psikologi
  4. Mayang Ayu A. Sari & Rizky P. Santosa. Pengaruh Self-Compassion terhadap Suicidal Ideation pada Dewasa Awal. Character Jurnal Penelitian Psikologi (2025). 
  5. Jane A. W. Sulistyowati & D. Rahmasari. (2025). Self-Compassion pada Remaja Perempuan Pelaku Self-Harm. Character Jurnal Penelitian Psikologi
Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar